Sadarlah bahwa Anda Tidak Sendiri

Sadarlah bahwa Anda Tidak Sendiri

Jika anda merasa kesepian biasanya hal ini bukan karena tidak ada orang lain di sekitar anda, namun karena di dalam hati anda tidak ada seseorang.

Anda bisa kehilangan masa-masa yang berharga yaitu ketika pada suatu saat anda merasa enggan untuk memberikan bantuan pada orang lain yang lebih membutuhkan.

Pada saat memberikan bantuan, tanpa disadari anda sudah menjalin hati antara anda dan orang lain dengan dawai emas yang tidak terlihat. Dawai tersebut bernama persaudaraan.

Semakin banyak dawai yang anda jalin maka rasa kesepian akan semakin jauh dari hati anda karena dawai-dawai tersebut akan mendentingkan nada-nada yang bisa menghibur dan mengisi jiwa anda.

Cobalah untuk bangkit lalu tebarkan senyuman dan uluran tangan anda. Sebuah garis senyuman dan tatapan mata yang bersahabat cukup untuk membuat anda sadar bahwa anda sama sekali tidak sendiri.

Mencari Kesempurnaan

Mencari Kesempurnaan

Pada suatu hari ada seorang pria yang sangat tampan dan merasa yakin bahwa Tuhan pasti mengirimkan jodoh padanya berupa seorang wanita yang sangat cantik dan sempurna.

Sejak saat itu pria ini berusaha mencari jodohnya dengan pergi berkeliling hingga dirinya tiba di suatu desa yang terpencil.

Pria ini bertemu dengan seorang petani yang mempunyai 3 orang anak yang semuanya adalah wanita yang sangat cantik.

Lalu pria tersebut menemui bapak petani dan berkata bahwa ia ingin sekali untuk menikahi salah satu dari putrinya. Namun sayangnya pria ini bingung dan tidak tahu mana yang paling sempurna untuknya.

Sang Petani memberi saran untuk mengencani mereka semua satu persatu secara bergantian dan pria ini pun setuju.

Pada hari pertama ia pergi dengan anak pertama hanya berduaan. Setelah mengantarkan anak pertama pulang ia berkata kepada bapak Petani, ”Ternyata anak bapak yang pertama mempunyai satu cacat kecil, yaitu jempol kanannya lebih besar daripada jempol kaki kirinya.”

Pada hari kedua pria ini pergi berduaan dengan anak yang kedua dan setelah mengantarkan anak kedua pulang ia berkata kepada bapak Petani,”Ternyata anak bapak yang kedua juga mempunyai cacat yang sebenarnya sangat sepele yaitu matanya agak juling.”

Setelah itu pada hari ketiga pria ini pergi berduaan dengan anak yang ketiga. Setelah pulang ia sangat merasa gembira dan berkata pada Petani, “Ini dia yang saya cari-cari selama ini. Anak bapak yang ketiga sangat sempurna.”

Lalu pria tersebut menikahi anak ketiga Petani. Setelah melewati 9 bulan pernikahan, si Istri melahirkan bayinya.

Pria tersebut menyaksikan kelahiran anak pertamanya dengan penuh kebahagiaan. Namun pada saat anaknya lahir ia merasa kecewa sekaligus kaget karena ternyata anaknya sangat jelek.

Akhirnya pria tersebut pergi menemui bapak Petani dan bertanya, “Saya tampan dan anak bapak cantik, tapi kenapa anak saya bisa jelek seperti ini ??”

Bapak Petani menjawab,”Sebenarnya anak saya yang ketiga mempunyai satu cacat kecil yang tidak terlihat . Waktu itu Ia sudah hamil duluan…..”

 

Renungan :

Jika kita selalu mencari kesempurnaan maka bersiap-siaplah untuk merasa kecewa. Namun jika anda mau menerima kekurangan maka segala sesuatunya akan terasa istimewa.

 

Kisah Nyata Tentang Arti Kesetiaan

Kisah Nyata Tentang Arti Kesetiaan

Sebenarnya kita tidak perlu mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah orang yang terkenal ataupun cerita-cerita yang sudah lama terjadi karena sebenarnya kita juga bisa mengambil hikmah dari kisah nyata yang terjadi pada orang-orang yang ada di sekitar kita.

Misalnya kisah dari Bp. Eko Pratomo Suyatno, Direktur Fortis Asset Management yang memajukan industri Reksadana di Indonesia dan sangat populer di kalangan Pasar Modal dan Investment.

Jika dilihat dari usianya yang 58 tahun, Pak Suyatno sudah tidak bisa dikatakan muda, bahkan usianya sudah bisa dibilang senja.

Keseharian pak Suyatno diisi dengan merawat istrinya yang sedang sakit. Usia pernikahan mereeka berdua sudah lebih dari 32 tahun dimana mereka berdua dikarunia 4 orang anak.

Cobaan pertama datang pada saat istrinya melahirkan anak keempat dimana secara tiba-tiba kakinya tidak bisa digerakkan atau lumpuh.

Hal ini terjadi selama 2 tahun. Pada saat menginjak tahun ke tiga, seluruh tubuh istrinya menjadi sangat lemah bahkan seperti tidak memiliki tulang. Selain itu lidahnya juga sudah tidak bisa digerakkan sama sekali.

Aktivitas yang Pak Suyatno lakukan adalah memandikan, menyuapi makanan, membersihkan kotoran hingga mengangkat istrinya keatas tempat tidur.

Sebelum Pak Suyatno berangkat kerja, ia letakkan istrinya di depan televisi agar istrinya tidak merasa kesepian.

Meskipun istrinya tidak bisa bicara sama sekali namun Pak Suyatno masih sering melihat istrinya tersenyum padanya.

Untungnya tempat Pak Suyatno bekerja masih bisa dibilang dekat dari rumah sehingga ia masih bisa menyempatkan diri untuk pulang ke rumah untuk menyuapi istrinya makan siang.

Setelah itu pada sore harinya Pak Suyatno memandikan dan mengganti pakaian istrinya. Setelah selesai maghrib Pak Suyatno menemani istrinya menonton TV sambil bercerita mengenai segala kejadian yang terjadi seharian.

Sang istri tidak bisa memberikan tanggapan dan hanya bisa memandang saja. Meski demikian Pak Suyatno sudah merasa cukup senang dan bahkan ia masih sering menggoda istrinya tiap kali menjelang tidur.

Pak Suyatno melakukan rutinitas ini selama kurang lebih 25 tahun dimana dengan sabarnya dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan keempat buah hati mereka.

Pada saat ini anak-anak mereka sudah dewasa, namun hanya tinggal si bungsu yang masih ada di bangku kuliah.

Lalu pada suatu ketika semua anak suyatno berkumpul di rumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya.

Pada saat itu anak-anak mereka sudah menikah dan tinggal di rumah sendiri dengan keluarga masing-masing.

Sedangkan Pak Suyatno memutuskan untuk merawat ibu mereka dan yang ia inginkan hanya satu yaitu kelak semua anaknya menjadi orang yang sukses dan berhasil.

Anak Pak Suyatno yang sulung berkata dengan hati-hati, “Pak, kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu, tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak, bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu”.

Anak sulung melanjutkan kata-katanya dengan air mata yang berlinang, “Sudah yang keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak. Kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”.

Pak Suyatno akhirnya memberi jawaban yang sama sekali tidak pernah diduga oleh anak-anaknya, “Anak-anakku… Jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah.. tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian. Sejenak kerongkongannya tersekat, kalian yang selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat dihargai dengan apapun.”

“Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain? Bagaimana dengan ibumu yg masih sakit.”

Lalu meledaklah tangis dari anak-anak pak suyatno setelah mendengar jawaban tersebut. Anak-anak pak Suyatno melihat ada butiran-butiran kecil yang jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno. Dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu.

Hingga akhirnya Pak Suyatno diundang untuk menjadi nara sumber oleh salah satu stasiun TV swasta dan Pak Suyatno pun mendapatkan banyak pertanyaan, misalnya kenapa bisa bertahan selama 25 tahun untuk merawat istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa lagi.

Pada saat itu tangisan beliau meledak bersama dengan tamu yang juga hadir di studio, di mana sebagian besar adalah kaum wanita yang juga tidak bisa menahan haru.

Pak Suyatno bercerita, ”Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) itu adalah kesia-siaan”.

“Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu-lucu. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama. Dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit…”